Dimasakin Ibu, Siapa yang Bahagia?

Tiap anak-anaknya pulang mamah selalu sibuk didapur menyiapkan berbagai hidangan untuk kami, kalo mau ngobrol panjang sama anak-anaknya baru bisa dilakukan setelah makan malam sampai menjelang tengah malam (bahkan sering sampai jam 1 atau 2)

Saya pikir mamah melakukan itu semua untuk menyenangkan anak-anaknya, karena saya memang merasa senang dan bahagia tiap mudik, menunya lengkap, bisa 4-5 jenis lauk tersedia di meja, kalo anak kost kan paling makannya pake 2 jenis lauk, kadang cuma nasi sama sayur aja kalo lagi bokek hihihi…

Setelah menikah dan punya anak, saya sadar, ternyata apa yang mamah lakukan bukan semata-mata untuk membahagiakan orang lain, melainkan untuk kebahagiaan dia juga. Mamah akan merasa bahagia kalau masakannya cepat habis, artinya anak-anaknya makan dengan lahap (jelas lahap lah, biasa makan sama nasi dan telur eh pas mudik dikasih makanan mewah).

Saya yang dulunya ga bisa masak mulai giat belajar masak sampe bela-belain beli berbagai resep. Berulang kali gagal, tapi selalu diberi semangat oleh Nanto. Hebatnya suami saya, walaupun hasil masakannya gagal, dia tetap makan.

Setelah punya Bebe saya makin seneng masak, karena saya mau Bebe bisa doyan segala macam jenis makanan yang saya makan dan lebih sehat dibanding makan makanan pabrik. Sekarang saya mulai memetik hasil perjuangan didapur, Bebe doyan segala macam makanan, termasuk sayur-sayuran yang hanya di blanch tanpa bumbu apapun termasuk gula garam.

Saat saya memasak, saya tidak hanya bertujuan untuk membahagiakan suami atau anak saya, tapi juga untuk kebahagiaan dan pencapaian diri sendiri. Komentar-komentar seperti “enak banget bu” atau “masakan bubu bikin baba ga bisa berenti makan” dari Nanto itu bikin saya bahagia. Belum lagi celotehan “enyak, manyus” dari bebe yang bikin saya ngerasa jadi chef bintang 5.

Masak itu juga irit banget lho, dengan uang 40 ribu saya bisa bikin beberapa kembang tahu gulung isi ayam dan udang, coba aja beli di hokben, 1 gulung kecil aja harganya berapa? Segitu aja ga habis dalam 1 hari, bisa dipotong-potong trus masuk freezer deh.

Saya sedih ada orang yang berkomentar “kalo harus masak tiap hari, nikah sama pembantu kali”, saya masak untuk diri saya, suami dan anak saya setiap hari, saya bukan pembantu mereka, tidak ada satupun dari mereka menganggap saya pembantu. Suami saya bahagia makan masakan saya, tapi ga masalah kalo saya ga mau masak “kalo kamu capek kan bisa beli” katanya, sama sekali ga merendahkan istrinya bukan?

Istru mau masakin buat suami dan anak atau ngga, itu pilihan…
Kalau berbeda pendapat, ga perlu saling ejek kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s